oleh

Masih Banyak Warga Bangkang Pasca PSBB-2, Model Pengawasan Di DKI Perlu Direvisi

Jakarta,Aktual News-Walau pun merupakan salah satu garis kebijakan yang bersumber dari gagasan pemerintah dan pemerintah daerah, namun kita tentu sepakat, bahwa sesungguhnya “Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)” merupakan salah satu pilihan yang paling efektif untuk memutuskan mata-rantai penyebaran virus corona alias covid-19. Terlebih-lebih di wilayah DKI Jakarta sebagai “ibukota negara” yang selama ini diketahui  intensitas pergerakan atau mobilitas masyarakatnya sangat tinggi, bahkan relatif jauh melampaui kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Tidak heran, menurut Gubernur Anies Baswedan, dalam keterangannya yang diutarakan melalui salah satu stasiun TV-Swasta beberapa hari lalu, pihaknya akan memperpanjangan penerapan PSBB jilid-2 yang menurut jadwalnya akan segera berakhir. Alasannya, karena melihat hasil yang diraih selama penerapan PSBB mulai jilid-1 hingga jelang berakhirnya jilid-2 menurutnya telah membuahkan hasil yang menggembirakan, antara lain angka pertambahan jumlah pasien positif atau mereka yang terkonfirmasi sudah positif terinfeksi virus corona dinilai cendrung melandai.

Gubernur Anies saat memberikan keterangannya itu kelihatan begitu optimis, bahwa kelak setelah mengakhiri penerapan PSBB episode ke-3 pada bulan Juni 2020 nanti warga ibukota sudah masuk pada suasana kondusif yang memungkinkan relaksasi atau sesuatu model kebijakan lain-lain.

Pertanyaannya, apakah jelang memasuki penerapan PSBB episode ke-3 setelah melampaui 2 x 2 minggu atau 28 hari rentang waktu PSBB jilid-1 dan jilid-2 yang segera berakhir hari ini, Kamis (21/5), segenap warga ibukota telah secara sadar mematuhi syarat-syaratnya sebagai salah satu isyarat bahwa optimisme Anies berpeluang besar terwujud ?

Pada kenyataannya, masih saja ada warga yang berlagak acuh tak acuh tidak mempedulikan syarat-syarat yang diberlakukan oleh Pem-Prov. Syarat-syarat itu antara lain memakai masker, berboncengan dengan menggunakan sepeda motor, dan lain-lain.

Sikap ogah-ogahan warga ibukota ini terungkap dari pemantauan media ini pada beberapa jalur jalan di ibukota, pagi jelang siang hari tadi, Kamis (21/5).

Di Jln Matraman Raya pada Traffic-Light di simpang jalan persis di depan Indo-Mart, nampak seorang Ibu menggonceng seorang anak kecil kurang lebih berusia 5 tahun menuju arah-balik ke Salemba kedua-duanya tidak memakai helm sedangkan si anak tidak dipakaikan masker. Selain itu, sepasang anak-anak belia kira-kira masih berusia 13-14 tahun berboncengan pada sepeda-motor yang lain bukan saja tanpa menggunakan helm pelindung kepala melainkan tidak memakai masker.

Jelang belok-kanan naik ke arah Bukit-Duri Tanjakan, sambil menunggu sebuah kereta Commuter-Line yang jalannya merapat pelan memasuki Stasiun Bukit-Duri, agak lebih dekat rell nampak seorang lelaki berbaju-kaos oranye mengendarai sepeda motor tanpa masker mau pun helm, sedangkan dari arah-berlawanan beberapa orang dengan sepeda-motor berbeda rata-rata tidak memakai masker bahkan juga tanpa helm pelindung kepala. Lebih menyoloknya lagi, salah satu diantara sepeda-motor yang datangnya dari arah-berlawanan itu justru dikendarai berlapis oleh 3 (tiga) orang terdiri dari sepasang pria-wanita setengah-baya dengan seorang anak-gadis kecil di bagian depan, sedangkan baik masker mau pun helm tidak digunakan ketiga-tiganya.

Fakta masih adanya warga yang tidak menggunakan masker sambil berboncengan 2-3 orang pada satu sepeda-motor ini masih ditemukan juga pada beberapa alur jalan ibukota setelah melewati Stasiun Bukit-Duri sampai ke kawasan Kampung-Melayu Kecil di kawasan Bukit-Duri begitu pula ketika berjalan balik hingga diakhiri di kawasan Jln Jamrud tak jauh dari Kantor Kelurahan Kenari Jakarta-Pusat melalui Fly-Over Senen. Rangkaian temuan ini tentu membuktikan sampai PSBB jilid-2 berakhir, ternyata masih banyak warga ibukota bersikap acuh tak acuh enggan mematuhi syarat-syarat yang diberlakukan pemerintah dan pemerintah daerah selama ini, walau pun bisa dipastikan informasi tentang manfaat mau pun akibat-pengabaiannya telah difahami secara luas. Seperti ternyata masih banyak orang yang enggan memakai masker ketika bepergian ke luar rumah dan juga masih banyak yang berboncengan saat mengendarai sepeda-motor bahkan hingga 3 orang.

Agar Anies tidak meleset targetnya pasca penerapan PSBB episode ke-3 nanti, maka mau tak mau, model penempatan petugas-petugas Pengawasan di berbagai jalur-jalan harus direvisi. Tak perlu mesti menumpuk sampai 20-an orang atau lebih pada satu titik, melainkan sudah cukup apabila tim yang ramping biar pun dalam jumlah yang lebih kecil antar instansi terkait (Pem-Prov dan TNI/Polri), asalkan bisa menempati lebih banyak titik atau lokasi. Beriringan dengan itu, barang siapa pun yang terbukti melanggar patut dikenakan sangsi sesuai apa yang telah ditetapkan, agar ada efek jera dan sekaligus dapat memperbesar peluang tercapainya target PSBB di DKI Jakarta.[ Red/Akt-13 ]

 

 

Munir Achmad
Aktual News

Foto :
Simpang-Jalan Menuju Bukit-Duri Tanjakan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

News Feed