oleh

Nama Yang Manis

Cerpen Ini diilhami dari Sebuah Lagu karya Tonny Koeswoyo

Di sebuah kesempatan dalam perjalanan pulang di stasiun Jatinegara-Bogor, sejak sedari tadi aku memperhatikan gadis itu. Duduk di gerbong dekat jendela, disamping pak tua yang sedang tertidur lelap. Sesekali jemarinya yang lentik memainkan tombol hanphone sambil asyik memainkan game, rambutnya yang tipis tergerai dihembus angin dari jendela. Seakan anginpun ikut menikmati keindahan wajahnya yang manis. Belaian sang angin membuat gadis itu terbuai oleh hembusan yang memanjakan.

Aku tetap diam tak bisa berkata-kata, hanya pandangan mata tetap menatap tajam pada sebuah lukisan hidup yang membuat matahatiku selalau berbicara.

Sambil memainkan bollpoin aku termenung, ingin rasanya aku tuliskan puisi untuk dia di sudut gerbong kereta itu, seiring dengan laju kereta aku tetap mengikuti irama hatiku.

Sebenarnya aku pernah melihat gadis itu, tapi aku lupa, sungguh benar-benar lupa. Aku sedang mengingingatnya, mungkin masih tersimpan di saku sepotong memori yang pernah ada. Sementara aku tak lagi memperhatikan disekelilingku. Entah sudah berapa stasiun kereta berhenti, Sementara penumpang sudah mulai bertambah padat, disampingku berdiri seorang ibu bersama anaknya yang digendong baru saja naik dari stasiun berikutnya.

Tanpa diminta aku mengalah dan memberikan kursi duduk pada ibu itu, “terimakasih mas..” katanya sambil bergegas duduk dan diam dengan nyaman. Aku hanya tersenyum, tanpa disadari gadis yang ada disudut jendela itu memperhatikanku sambil manatap tajam. Entah apa jadinya ketika pandangan mata beradu dengan gadis manis itu, tanpa ragu aku membalas dengan senyuman.

Tanpa diduga sebelumnya gadis itu tersenyum dan menyapaku, ” Mas..mau kemana ?.. ” katanya sambil menatap penuh harap. Bukan main terkejut hatiku, aku agak gugup, entah apa yang harus aku lakukan.
Dengan rasa penasaran serta harap-harap cemas membuat hatiku masih diliputu rasa yang tak menentu, sembari memeluk tas aku mencoba melepas senyum sekali lagi. Gadis itupun membalas dengan senyuman yang sangat menusuk hatiku.

“Busyet gue jadi dag-dig-dug begini,senyum manisnya yang membuat gue kelepekan,..” celotehku dalam hati sembari kasak-kusuk aku mencoba mendekati gadis itu. “Maaf aku menggaggu..” kataku memulai obrolan. “Oh nggak apa-apa,..masih cukup ko,” katanya sembari menawarkan tempat untuk barang bawaanku didekat kursi gadis itu. Sementara kereta terus melaju memainkan irama tak-tik- tak pada pada rellnya sesuai dengan suasana hatiku yang sedang deg-deg plas.

“Rasnya kita pernah bertemu,tapi dimana yach ? ..” kataku dengan agak gugup, ” dimana ?..” timpalnya malu-malu. Sementara diluar angin meniup dengan lembut, tentu saja belaiannya menyisir rambutnya yang hitam sebahu itu menambah keindahan karena tergerai dimainkan oleh angin yang tak mau kalah bersaing denganku.

Suasana semakin tak menentu, pasalnya di dalam gerbong itu semua mata menatap dan memandangiku. “Duh ko’..jadi kaku begini, gue harus agresip dengan melontarkan kata-kata atau paling tidak sekedar obrolan ringan,” ujarku menenangkan suasana dalam hati.

“Yach,..aku baru ingat,..kita pernah bertemu distasiun bus Baranangsiang,” timpalku mencoba meyakinkan gadis itu, “..sebentar,kalau nggak salah kamukan yang memberi aku tempat duduk waktu aku kebingungan di dalam bus ? ” ucapnya sambil tersipu cewek itu mulai ingat dan tepatlah sasaranku untuk membuka jalan.

“Ngak salah,.alias benar hehe..kamukan yang menanyakan alamat kepadaku?” timpalku dengan penuh antusias. Akhirnya kami terlibat obrolan panjang, tak perduli kanan dan kiri. Aku sudah tak memperdulikan disekelilingku yang sedari tadi menatap penuh curiga. Perjalananpun semakin berirama sesuai dengan laju kereta yang membawa kami semakin lupa akan tujuan masing-masing. Tapi tidak menjadi masalah, pasalnya kesempatan jarang terjadi, makanya aku tak mau kehilangan yang kedua kalinya kesempatan untuk mendekati gadis itu.

“Riska ” sungguh nama yang sangat manis, dia memperkenalkan namanya setelah lama kami berbincang tentang masalah kami berdua. Entah dari mana aku harus mengakhiri cerita ini, karena aku benar-benar merasakan sugesti dalam hidupku. Aku terkesima dengan apa yang ada didepanku. Sebuah nama yang manis tak lepas dari ingatanku.

Tanpa terasa,..yang lebih sangat mengejutkan kami lupa akan tujuan masing-masing, stasiun tujuan telah lewat jauh. Aku hanya terdiam seakan ikut arus suasana pada saat itu. Gadis manis itupun mengerti gejolak didadaku hingga ia tersenyum kecil sembari tersipu malu.

Nama yang manis menjadi sebuah inspirasi hidupku,..sayang waktu telah lama berlalu. Itu hanya sebuah kenanganku dimasa lalu. Meski hanya tinggal sebuah nama tapi sangat berkesan dalam hidupku. Entah dimana sekarang rimbanya aku tak tahu. Karena setelah kutahu ia sudah bertunangan,..aku sempat melupakan kenanagn itu, lewat tulisan ini kusampaikan rasa rinduku meskipun hanya sebuah getaran jiwa yang tak pernah kulupakan. Salam untuk semua yang ada dalam hidupmu kini.

                             ***

Oleh : UG DANI

 

Ketentuan Penulis : Aktual News

Gambar Gravatar
Aktual News merupakan media warga, seluruh informasi yang ditampilkan merupakan tanggungjawab pengirim, Rekening donasi : 33001058263504

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed