oleh

Kiai Ali Maksum dan Pohon Kristen

Jakarta, Aktual News-Pernah suatu ketika, KH Ali Maksum jalan-jalan di sekitar pesantren. Beliau sering melakukan kegiatan tersebut, berniat untuk memantau kondisi di sekitar lingkungan pesantren. Entah itu kondisi santrinya, pun masyarakat di sekitarnya.

Sejauh beliau berjalan, nampak santri berkegiatan seperti biasa, ada yang mengaji Qur’an, belajar, mencuci dan tidak sedikit yang sedang ngopi berdiskusi.
.
Tiba-tiba, mata Mbah Ali menatap dalam-dalam, dari kejauhan sana terdapat keramaian. Beliau mendekati sumber keramaian, didapatinya enam orang santri berjibaku menebang pohon cemara.

“Bocah, kenapa kamu tebang pohon itu?” tanya Mbah Ali.

“Ini pohon ceramah, Mbah, eh, cemara, Mbah,” jawab santri tergagap. Kaget sekaligus takut. Mereka hampir tak menyadari kedatangan Mbah Ali.

“Trus kenapa kalau pohon cemara? Kenapa ditebang?” Mbah Ali terus menyelidiki.

“Lah ini pohon orang Kristen, Mbah. Pohon yang digunakan umat Kristen untuk merayakan Hari Natal. Agar tidak menyamai mereka, anak-anak sepakat menebang pohon ini.”

“…dalilnya kan sudah jelas Mbah, ‘Man tasyabbaha bi qoumin fahuwa minhu…” ujar si santri sembari ndalili Kiainya sendiri.

“Hmm gitu tho le,” dehem Mbah Ali. “Lah sejak kapan pepohonan mempunyai agama?” Mbah Ali bertanya balik.

Yang ditanyai tanpa respon, saling pandang satu sama lain. Bingung gelagapan.

“Asal salatmu masih lurus, pepohonan ini tidak bakal bisa merintangi imanmu, le. Pohon cemara kamu bilang pohon Kristen. Nggak sekalian saja pohon lainnya kamu kasih agama? Semua saja kamu labeli agama. Motor agama Shinto soalnya dari Jepang. Bentuk motor mirip salib, kamu bilang itu kendaraan kafir.”

Selagi Mbah Ali menjelaskan, masing-masing santri diam-diam melempar muka dan melepaskan alat-alat yang tadi dibuat untuk menebang, seperti tali, gergaji, palu dan golok.

Semua santri diam dan tak berdaya. Setelah mendapat penjelasan panjang lebar, seolah-olah mereka pengin pipis di celana. Masih tanpa ekspresi, mereka berdiri terpaku dan terpukau dengan penjelasan Mbah Ali. [ Red/Akt-28 ]

 

Aktual News

shared_by.catatan.kecil:
Pesan –
* Ilmu itu sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat,
* jangan mudah terpengaruh dengan lingkungan , sebelum kita memahaminya sendiri,
* Jangan merasa paling benar dalam segala hal dan bidang, dan
* Tetaplah menggunakan ilmu padi semakin tua dan berisi semakin menunduk.

 

 

Sumber : Ceritaaswaja, ulamanusantara, Santrimilenialid, SantriRungtamat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed