oleh

Hari Braile dan Kedaulatan Aksara Kaum Buta

Aktual News-Pada  suatu masa, berabad-abad lampau, saat Louis Braille belum menyempurnakan temuan ‘the night writing’ Barbier de la serre, orang-orang buta tidak bisa menulis dan membaca.

Pun jauh saat Guttenburg menemukan mesin cetak, hanya sebagian saja orang buta bisa membaca buku hasil cetakan dengan huruf timbul menyerupai aksara latin. Orang buta dari kaum kaya saja yang bisa memperoleh buku-buku agama, mempelajarinya dan menjadi pintar. Orang buta nan miskin tak bisa menjangkaunya.

Pada 1823, saat Louis Braille mulai mengenali sistem huruf dengan 12 titik yang kemudian memodifikasinya menjadi 6 titik barulah ada peluang orang buta bisa menulis dan membaca. Louis butuh waktu 5 tahun memangkas 6 titik yang tak perlu agar cukup pas disentuh oleh seluruh ruang diujung jari. Sebuah upaya tak mudah untuk memangkasnya titik demi titik.

Louis sekolah di sekolah buta di Perancis. Sebuah sekolah yang didirikan oleh Raja Perancis yang terinspirasi oleh tulisan Valentin Hauy yang menulis buku berjudul ‘an essay of the education of the blind’ pada akhir era 1700-an (1786). Raja kemudian mendirikan sekolah untuk orang buta, dan tahun demi tahun mulai diadopsi oleh sejumlah negara atau kerajaan lain di Eropa dan menyeberang ke Amerika Serikat dan Kanada. Louis Braille tumbuh dan semakin brilian selama di sekolah. Huruf taktil temuannya pun mulai dipakai dan diajarkan di sekolah itu.

Butuh sekian puluh tahun temuan Louis ini mulai dipakai di sekolah sekolah orang buta yang sudah berdiri di seantero Eropa, dan butuh puluhan tahun untuk bisa menyebar ke negara lain dan negara jajahan saat itu. Belanda sebagai penjajah Negeri Hindia mengadopsinya secara resmi sekitar tahun 1940-an. Baru setelah itu beberapa tahun kemudian sampai ke Indonesia.

Tapi Louis Braille bukan cuma menciptakan huruf-huruf taktil itu, ia juga membuat reglet atau slate dari bahan-bahan yang mudah diperoleh. Slate itulah yang kemudian ia gunakan untuk menulis taktil mengikuti ketentuan aksara latin dan angka Arab Barat, serta menyiapkan huruf bertitik untuk not lagu. Konon hingga kini ada 400 jenis reglet/slate yang sudah dibuat di berbagai negara. Dengan variasi ukuran kecil atau jumbo.

Karena murah dan mudah diajarkan dan digunakan bagi orang buta, temuan Louis ini dengan mudah melintasi negara-negara dan beradaptasi dengan sistem aksara non-Latin. Mulai dari aksara Hindi, Arab, Rusia, sampai China dan Jepang–mestinya juga menyentuh aksara Jawa atau Bugis. Itulah mengapa orang buta di Indonesia bisa mengaji dan mendirikan ITMI bersemboyankan “Izul Islam Walmuslimin walmakfufin” (kemuliaan Islam, kemuliaan kaum muslimin, dan kemuliaan orang-orang buta).

Bahkan Louis tidak merasa perlu untuk mematenkan temuannya. Mungkin karena ia mati muda setelah digerogoti tuberkulosis di usia 43 tahun dan belum sempat tergoda menjadi kapitalis . Boleh jadi karena Louis memang pro-orang miskin sejak dalam pikiran dan berpikir bahwa pengetahuan bagi orang buta harus fully access dan orang buta harus bangga dengan huruf-huruf nya sendiri.

Setelah kelahirannya ke 210 tahun, dan setiap 4 Januari dirayakan sebagai hari braille, ada kegelisahan mencuat seiring berkembangnya temuan-temuan baru berbasis dijital. Kini orang buta mulai fasih mengetik dan membaca dengan telinganya melalui gadget, mengetik layaknya para pembaca dan penulis aksara latin juga melalui gadget atau laptopnya. Jika dulu, satu atau dua dekade lalu kebanyakan orang buta masih membawa regletnya dan mencipta tulisan dengan huruf braille, kini gadget atau dawai sudah lebih akrab bagi orang buta.

Literasi berbasis braille akankah memudar?

Akankah kita akan mengenal dan mengenang buku braille terakhir yang dicetak abad ini?

Entahlah, yang pasti hari braille ini bukan hanya soal ditemukannya huruf braille, tapi ini soal “Kedaulatan Literasi Kaum Buta sedunia!”

Jika orang buta tidak atau kurang menghargai lagi huruf taktil berikut teknologi yang mendukungnya, yang telah membuat orang-orang buta telah melek pengetahuan di sepanjang lebih 2 abad ini di selur

uh pelosok dunia, maka mungkin kita harus khawatir jika kelak literasi the blind people melalui sistem aksaranya sendiri akan mundur bahkan terhenti di kemudian hari.

Jika itu terjadi, maka maafkan aku Louis, jika harus merayakan kelahiranmu tanpa menulis dan menerbitkan satu buku berhuruf Braille. [ Red/Akt-01]

 

Ishak Salim
Ketua PerDIK

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed