oleh

Peringkat Kebablasan Pers, Penghias Wajah Pers Nasional Tahun 2018

Aktual NewsPers dan jurnalistik kita sebahagian memang ada yang ‘diperkosa’ oleh para pendiri yang melahirkannya. Ada juga yang ‘dijual’ kehormatannya pada penguasa, namun yang paling banyak adalah dengan sengaja melacurkan diri murah-murah pada kekuasaan demi mendapatkan kenikmatan rupiah.

Ketika itu terjadi, maka kehormatan yang disandangnya sebagai jendela dunia, teropong rakyat, cermin hati nurani rakyat, pembaharuan intelektual dan berbagai prinsip-prinsip mulia jurnalistik lainnya menjadi luntur.

Seberapa parahkah tingkat independensi pers dan jurnalistik Indonesia dimata dunia ..?
Hasilnya sangat menyedihkan. Indonesia berada pada peringkat ke-124 dari 180 negara versi 2018 WORLD PRESS FREEDOM INDEX.
Bahkan rangking kebebasan pers Indonesia berada dibawah Uganda, Afganistan dan Nigeria.

Artinya dunia jurnalistik Indonesia nyaris menjadi etalase bagi kekuasaan. Pers kita setelah ikut ‘berjualan’ produk politik menjadi lebih mirip katalog produk ketimbang karya jurnalis. Apalagi menjelang tahun-tahun politik yang mendekati pemilihan caleg, pilkada atau Pilpres, alih-alih disebut karya jurnalis, malah Pers kita layak disandingkan dengan Prospektus politik.

Melihat hasil peringkat yang ada dalam indeks yang di terbitkan oleh Reporters Without Borders (RSF) tersebut, Indonesia memiliki skor 39.68, jauh dibawah Belanda yang skornya bertengger di angka 10.01, dibawah swedia dan norwegia yang masing-masing berada pada skor 7.63 dan 8.31.

Artinya kita memiliki potret situasi kebebasan pers (media) yang buruk berdasarkan pada evaluasi pluralisme, independensi media, kualitas kerangka kerja legislatif, dan keselamatan jurnalis.

Sayang sekali, pers dan jurnalistik nasional yang seharusnya dapat menjadi penyeimbang informasi, tetapi malah menjadi pers partisan, kepercayaan yang dibangun dalam waktu puluhan tahun, harus hancur sirna dalam sekejap.

Hanya perlu waktu 4 tahun untuk mengubah Kebebasan Pers Nasional menjadi Kebablasan Pers Nasional, sekaligus mengubah wajah semangat jurnalisme profesional menjadi spirit of advertorial journalism.  Miris !. [ Red/Akt-01]

 

Nadya Valose
Aktual News

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed