oleh

Gara-gara Kabar Legislator Minta Tunda Proses Hukum Di KPK, Warga Datangi DPR RI

Mesjid Baiturrahman di Komplek DPR RI Senayan

 

Jakarta, Aktual NewsAkhirnya tak sia-sia juga perjalanan hari itu jauh-jauh dari Depok datang ke markas parlemen di Senayan, walau Legislator yang ingin dimintai konfirmasi kabarnya mendadak berhalangan ngantor. Siang hari Senin 4/2 itu, usai waktu sholat dhuhur baru bergegas ingin melepas rasa dahaga di Pujasera Koperasi Karyawan Parlemen RI, secara kebetulan beberapa orang asal Ambon ditemui di halaman Mesjid Baiturrahman di Kompleks MPR/DPR RI Senayan baru juga selesai menunaikan sholat dhuhur. Saat bersalaman dan berjabat-tangan satu demi satu ternyata ada sebuah tim yang terdiri dari 5 (lima) orang. Mudah mengidentifikasi dari mana asalnya, karena bertuturnya menggunakan penuturan serta dialek yang lazim dalam pergaulan sehari-hari di Kota Ambon. Sayangnya, ke-4 orang hanya mau bersalaman saja  tanpa ada yang tergerak memberitahukan nama-namanya dan dari mana, kecuali salah seorang yang kelihatan berusia setengah baya mengaku asalnya dari Ambon tetapi sudah lama berdomisili di Tangerang, itu pun enggan dijelaskannya lebih jauh tentang alamatnya secara detil.

Usut punya usut, terungkap kedatangan mereka terkait kabar keterlibatan Abdul Mukti Keliobas Bupati Seram Bagian Timur (SBT) di Maluku dalam kasus suap dan gratifikasi terdakwa Yaya Purnomo Dkkyang tuntutannya baru saja dibacakan Jaksa Penuntut Umum KPK RI di Pengadilan Tipikor Jakarta, hari Senin 21/1 lalu. Begitu memperkenalkan diri dari media ini sambil memperlihatkan berita edisi 20/1 lalu (Baca Berita : “Dalam Kasus Yaya Purnomo, KPK Diminta Konsisten Terkait Peran Keliobas”) dari pencaharian google di ponsel, kelima orang ini saling menatap satu sama lain sambil melempar senyum. Segera saja rekannya yang mengaku tinggal di Tangerang mengajak media ini bergeser kira-kira 40an meter kemudian duduk di bawah sebuah pohon di luar jalan papinblock menuju lokasi parkiran di belakang mesjid. Setelah duduk, dengan ramah disebut namanya Rusdy, tinggal di kawasan Cikupa dan salah satu dari ke-4 orang itu masih tergolong kerabatnya sendiri sehingga dia diajak ikut, hanya ketika media ini mencoba memotret wajahnya spontan dia menolak keras.

Dia kemudian menjelaskan maksud kedatangannya ingin menemui Pimpinan DPR RI melalui salah seorang Anggota DPR RI yang katanya mengenalinya cukup dekat. Kagetnya, ketika diitanyakan apa tujuannya, sambil tersenyum Rusdy mengatakan : “ingin sampaikan apa yang tadi diberitakan juga di media abang. Karena menurut beliau-beliau tadi kabar itu sudah beredar juga di Ambon malah sampai di SBT. Banyak orang khawatir jangan sampai benar ada orang datang desak Pimpinan KPK tunda proses hukumnya padahal keterlibatan pak Bupati (Keliobas, Red) dalam kasus itu diyakini bukan rekayasa. Apalagi bawa alasan yang menurut pendapat banyak orang hanya akal-akalan sebab warga yakin tidak akan berpengaruh terhadap pemilu entah beliau hadir untuk memberikan keterangan atau ditangkap dan ditahan sekalipun”.

Merasa ibarat gayung-bersambut, disodorkanlah sebatang rokok padanya sambil mencoba bertanya lebih jauh. Ditanyakan apakah ada alasan khusus sampai datang menemui pihak DPR RI, Rusdy mengaku dirinya hanya mengikuti keinginan kerabatnya tadi. Dari penuturan kerabatnya itu, kata dia, nampaknya setelah mengikuti kepemimpinannya sampai sekarang kelihatan Keliobas bukan pilihan yang tepat. Rusdy sendiri mengaku kira-kira sudah lebih 6 tahun belum sempat pulang kampung sejak era Bupati terdahulu, Abdullah Vanath, tetapi dari penuturan kerabatnya tadi, kepemimpinan Keliobas bersama pasangannya Wakil Bupati Fachri Alkatiri dinilai tidak membawa perubahan signifikan dan janji-janji kampanye hanya pepesan kosong. Pengangguran tak berkurang sampai sekarang sudah masuk tahun ke-3 padahal saat kampanye digembar-gemborkan janji penciptaan lapangan kerja untuk menekan angka pengangguran bagi warga SBT, ditambah pula penataan birokrasi pemerintahan daerah acak-acakan hingga mengundang banyak kritikan bukan hanya oleh aparat melainkan terutama dari kalangan pemuda dan mahasiswa.

Selain itu, tambah Rusdy mengulangi penuturan kerabatnya tadi, warga yakin Keliobas terlibat dalam kasus itu karena pada dakwaan JPU ada disebut uang dari Sugeng untuk  proyek DAK 2017 di SBT disamping proposal proyek RAPBN-P tahun 2018, sedangkan orang bernama Sugeng ini di SBT biasa disebut “Tanjung” adalah Boss PT Azril Perkasa, yang dikenal sebagai“orang dekat Bupati Keliobas”. Orang banyak berpendapat Jaksa KPK tidak akan sembrono menuding seseorang dalam dakwaannya, lebih-lebih menurut Rusdy dari penuturan kerabatnya itu sejak bulan Agustus 2018 lalu media-media populer di Kota Ambon sudah secara vulgar memberitakan perannya terutama Spektum Maluku, Kabar Timur dan Siwa Lima. Antara lain diberitakan ada komunikasi aktif antara Yaya dengan Sugeng alias Tanjung mau pun Bupati Keliobas dari sumber KPK sendiri dan bukti komunikasi itu sudah dikantongi Penyidik, sedangkan kliping berita-berita media ini pun, menurut Rusdy ada di bawa ke Jakarta, rupa-rupanya sudah diniatkan bila sewaktu-waktu dibutuhkan.

Lebih lanjut ditanyakan lagi apa kira-kira target kedatangan mereka saat itu, menurut Rusdy, mereka berharap melalui pimpinan DPR RI tidak akan ada intenvensi oleh siapa saja dengan alasan apa pun terhadap proses hukum yang sekarang dilakukan Penyidik KPK, bila perlu DPR RI ikut mendorong agar terus berlangsung biar secepatnya selesai. Bahkan menurut dia, seusai dengan Pimpinan DPR RI mereka  akan datang juga langsung menemui Pimpinan KPK agar segenap uneg-unegnya dapat disampaikan langsung sebagai bentuk aspirasi warga terkait proses hukum terhadap Bupati Abdul Mukti Keliobas.

Media ini sempat diajak ikut bergabung menemui legislator yang ingin ditemuinya pada pkl 14:30WIB nanti sesuai waktu yang diberikan karena dianggapnya sama-sama dari Kota Ambon, namun sayangnya sudah lebih dahulu dijadwalkan datang ke Ombudsman RI Jln H.R. Rasuna Said pada waktu yang sama sehubungan laporan tentang Konflik Lahan Lokasi Bandara Emalamo di Sanana Maluku Utara sedangkan jaraknya juga tergolong tak dekat belum lagi dihadang kemacetan, akhirnya pembicaraan pun terpaksa segera diakhiri.[ Red/Akt-13]

Munir Akhmad
Aktual News

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed