oleh

Jelang Hari “H”, Relawan Jokma Maluku Utara Diarahkan Ikut Proaktif Jamin Stabilitas Keamanan

Maluku, Aktual News-Menghadapi pemungutan suara pemilu legislatif dan pilpres yang tinggal sehari, jajaran Relawan Jokma di Maluku Utara baik tingkat provinsi di Ternate mau pun Tim-Tim yang tersebar pada ke-9 kabupaten/kota se-provinsi Maluku Utara semuanya harus disebarkan turun menghimbau warga masyarakat pemegang hak pilih di daerah itu mau secara sadar datang ke Tempat-Tempat Pemungutan Suara (TPS) menyalurkan aspirasi politik sesuai pilihannya masing-masing, dan juga sama-sama ikut-serta secara proaktif mendukung aparat keamanan menjaga stabilitas keamanan di daerah agar perhelatan nasional ini berlangsung aman dan lancar dan pada akhirnya bisa berakhir dengan sukses. Segenap jajaran dikerahkan, bilamana perlu datang menemui masyarakat pemilih secara door to door tanpa memandang par-pol apa atau figur siapa pun pilihannya dan memberikan arahan-arahan persuasif agar tidak ada yang sengaja mengabaikan hak pilih alias gol-put pada hari pemungutan suara Rabu 17 April 2019 nanti. Pembebanan tanggungjawab itu diiringi dengan kewajiban membantu aparat keamanan mewujudkan suasana kondusif yang memungkinan setiap warga pemegang hak pilih menyalurkan aspirasi politiknya secara aman dan nyaman tanpa merasa ada penekanan oleh siapa saja atas sebab apa pun, dan pada akhirnya pesta demokrasi 5 tahunan ini lebih khusus di Maluku Utara dapat berakhir dengan lancar dan sukses.

Keterangan ini disampaikan kepada media ini oleh Koordinator Tim Relawan Jokma bentukan PB NU Jakarta untuk wilayah Maluku dan Maluku Utara, Soleman Lessy SP, melalui telepon seluler sore hari Senin (15/4). Itu menurut Soleman telah disampaikannya sebagai sebuah edaran lisan lewat pembicaraan telepon kepada segenap jajarannya sampai di tingkat kabupaten/kota se-Maluku Utara lewat Ketua Tim Relawan Jokma tingkat provinsi selaku Pengelola Rumah Kerja Bhineka Nusantara Maluku Utara di Ternate, dalam hal ini DR. HiBurhan Abdul Rahman SH MMalias “Hi Burhan”, yang sehari-harinya juga menjabat sebagai Walikota Ternate.

Hi Burhan sendiri belum berhasil dihubungi sampai berita ini dikirim ke meja Redaksi, namun dari keterangan Soleman terungkap pesannya sebagai semacam edaran lisan bagi jajarannya di wilayah Maluku Utara ini telah disampaikan melalui telepon seluler sejak hari hari terakhir memasuki masa tenang pada sore hari Sabtu (13/4). Tujuan utamanya menurut alumni Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon ini agar suasana keseharian masyarakat kembali normal setelah satu sama lain mungkin sempat bersitegang selama masa kampanye, kemudian masing-masing orang mau menyadari dibalik haknya untuk memberikan suara terselip pula tanggungjawab sebagai warga negara sehingga pada hari “H” semuanya datang memberikan suara di TPS, tetapi tidak lupa pula semuanya perlu berpartisipasi aktif mendukung apara keamanan ikut menciptakan suasana kondusif agar perhelatan akbar ini berlangsung aman lancar dan sukses.

Dikatakan, ketika dirinya datang untuk  melakukan evaluasi kegiatan Tim beberapa waktu lalu, dia menangkap kesan yang membuat dirinya merasa prihatin. Nampak terang sekali saat-saat itu, kata Soleman, harmoni keseharian di dalam masyarakat sempat terusik hanya gara-gara pilihan-pilihan yang saling berbeda, baik kaitannya dengan simpati terhadap sesuatu partai politik atau seseorang calon antar partai-politik dalam pemilu keanggotaan badan-badan legislatif DPRD dan DPRD, mau pun salah satu pasangan calon dalam pilpres. “Saya merasa masygul ketika menyaksikan bahwa pada beberapa lingkungan pemukiman harmoni sosial sehari-hari laksana tercabik hanya gara-gara perbedaan pilihan politik yang sifatnya sesaat ini”, tandasnya.

Pilihan-pilihan yang saling berbeda ini, katanya lagi, menurut pengamatannya pada tataran tertentu atau pada kalangan tertentu terasa dipegang begitu ekstrimnya laksana hitam-putih dan masing-masing cendrung menganggap pilihannya itulah yang paling benar dibanding dengan pilihan orang-orang lain, pada akhirnya memposisikan warga ke dalam sekat-sekat sosial yang baru, dan nampak pula perbedaan pilihan itu dengan mudah memicu perseteruan satu sama lain. Banyak dari mereka tidak mau memaknai perbedaan-perbedaan pilihan itu sebagai hal yang alamiah, bahkan bukan saja masyarakat yang tergolong sebagai orang awam melainkan tak sedikit golongan intelektual pun ikut-ikutan terjebak. Sementara itu, katanya lagi menambahkan, pada sebagiannya nampak pula ada orang-orang yang belagak ogah-ogahan, terkesan hanya menganggap pemberian suara pada hari pencoblosan hanya sekedar haknya belaka seakan-akan sama sekali tidak dilekati secuil kewajiban sebagai warga negara dalam konteks hidup berbangsa dan bernegara.

Konstruksi-konstruksi sosial semacam inilah yang kemudian menginspirasi dirinya, bahwa mau tak mau  harus buru-buru diambil kebijakan mengarahkan jajarannya datang menemui warga melalui pendekatan-pendekatan dialogis-familiar. Intinya, segenap jajaran perlu turun mendatangi warga dalam suasana kekeluargaan mengajak mereka melalui pendekatan-pendekatan dialogis hingga bisa berhasil merekatkan kembali jalinan silaturrahim yang terusik sambil memberikan motivasi agar segenap warga pemegang hak pilih mau secara sadar datang ke TPS pada hari pencoblosan untuk memberikan suaranya secara bebas sesuai pilihan yang tepat menurut pandangan masing-masing orang, dan juga sekaligus mau tergerak bersama-sama berpartisipasi aktif ikut mendukung aparat keamanan dalam menciptakan suasana yang kondusif agar agenda nasional ‘pesta demokrasi’ ini terselenggara dengan aman dan lancar serta berakhir dengan sukses, tukas Soleman mengkahiri pembicaraan.[ Red/Akt-01 ]

 

Munir Achmad
Aktual News

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed