oleh

LBH NU Maluku Minta Jokowi/Ma’ruf Pertimbangkan Retraubun

Maluku, Aktual NewsDicelah hiruk-pikuk elite-elite ibukota tentang susunan kabinet baru Pemerintahan Joko Widodo periode kedua sebagai Presiden RI 2019-2024  bersama pasangannya Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, menyeruak harapan agar seorang putera daerah asal Maluku bisa ikut diakomodir menduduki salah satu jabatan Menteri atau setara Menteri dalam kabinet yang akan segera dibentuk seusai pelantikan. Jokowi/Ma’ruf Amin diminta tidak ikut-ikutan para pendahulunya yang dinilai melupakan jejak sejarah yang mengukir rentetan saham putera-putera asal Maluku mulai saat-saat perjuangan kemerdekaan hingga masuk pada pembentukan NKRI.

Demikian rangkuman pembicaraan dengan Ketua Lembaga Penyuluhan & Bantuan Hukum (LPBH) NU Wilayah Maluku yang sementara berada di Jakarta, Samra, saat ditemui di Accacia Hotel Jln Kramat-Raya Jakarta kemarin Kamis (17/10). Dimintai komentarnya tentang susunan kabinet yang dalam beberapa hari ini diliput berbagai media, Samra yang saat itu didampingi Soleman AL dari LPBH Pengurus Besar NU di Jln Kramat-Raya No. 164 menolak mengomentari lain-lain figur yang hari-hari ini sedang ramai terwacana kecuali keinginan dan harapannya agar Presiden/Wakil Presiden Jokowi/Kiai Ma’ruf membuka ruang bagi masuknya seorang putera daerah Maluku dalam susunan kabinet periode 2019-2024. “Mungkin lebih arif bila saya tidak usah tergiring ikut mengomentari soal figur siapa-siapa yang dianggap layak menduduki jabatan menteri atau pejabat-pejabat setingkat menteri karena sifatnya personal dan tentu saja pak Jokowi bersama Kiai Ma’ruf punya parameter sendiri, tetapi yang ingin saya ungkapkan merespon pertanyaan anda, akan ada baiknya bila seorang putera daerah asal Maluku ikut diakomodir masuk dalam susunan kabinet, entah menjabat sebagai Menteri atau setidak-tidaknya salah satu jabatan setara Menteri”, pungkasnya. Ditanyakan gerangan siapakah tokoh Maluku yang dia maksud, menurut alumni Fakultas Hukum Unpatti Ambon ini tokoh Maluku sebenarnya banyak baik tokoh politik mau pun intelektual atau akademisi yang steril dari lakon-lakon politik, namun jika diminta menyebut salah satu di antara itu, maka tokoh tersebut tak lain Prof. DR. Ir. Alex Retraubun, M.Sc. Tentang mengapa Retraubun terkesan diunggulkan, menurut dia, atara lain karena putera asal kepulauan Kai Maluku Tenggara ini memiliki pengalaman cukup di kancah nasional, setidak-tidaknya sebagai Wakil Menteri.

Sejenak dia sempat menyinggung jejak sejarah putera-putera Maluku di kancah nasional, mulai Jong Ambon dengan tokoh-tokohnya pada era perjuangan kemerdekaan antara lain Mr J. Latuharhary yang kemudian duduk dalam keanggotaan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan akhirnya diangkat menduduki jabatan Gubernur pertama di Maluku bersamaan pembentukan Kabinet RI Pertama pada tgl 2 September 1945. Susul tak lama kemudian, tambahnya, pada saat pembentukan Kabinet Syahrir ke-2 tgl 12 Maret 1946 malah 2 (dua) orang putera Maluku sama-sama terakomodier yaitu Ir Marthinus Putuhena sebagai Menteri PU dan Dr Johannes Leimena sebagai Menteri Kesehatan. Leimena, kata dia, sejak saat itu sampai tahun 1966 atau lebih 21 tahun selalu duduk sebagai Menteri bahkan sebagai Wakil Perdana Menteri walau pun kabinetnya berganti-ganti. Disamping Leimena dan Putuhena, tandasnya, ada juga Melkias Agus Pellaupessy putera Maluku yang 2 (dua) kali menjabat Menteri dalam Kabinet Perdana Menteri Muhammad Natsir tahun 1950-1951 sebagai Menteri Penerangan dan sebagai Menteri Urusan Umum dalam Kabinet Sukiman –Suwirjo tahun 1951-1952. Masih pada akhir-akhir era kepemimpinan Sukarno, urainya lagi, Prof. Dr G.A. Siwabessy menjabat Menteri Kesehatan mulai pada Kabinet Ampera I bulan Juli 1966 susul Kabinet Ampera II pada masa transiri kepemimpinan Sukarno-Suharto, selanjutnya masih tetap diberi kepercayaan menjabat Menteri Kesehatan 2 (dua) periode Kabinet Pembangunan I dan II. Tetapi setelah itu, dari rezim ke rezim putaran jarum jam sejarah ibarat di balik, tidak lagi ada tempat bagi putera-putera Maluku dalam kabinet. Baru pada periode ke-2 kepemimpinan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kesempatan itu sejenak dibuka lagi dengan menempatkan Retraubun sebagai Wakil Menteri Perindustrian medampingi menteri M.S. Hidayat, akan tetapi setelah itu, keberadaan putera-putera asal Maluku kembali diabaikan sampai sekarang. Padahal menurut dia, dari rangkaian sejarah panjang sejak awal NKRI sudah teruji betapa anak-anak Maluku memiliki kapasitas cukup untuk ikut menempati pos-pos utama dalam jajaran kabinet.

Akan halnya figur Retraubun yang juga mantan Dirjen KP3K (Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil) tahun 2005-2009 itu menurut Advokat yang selalu tampil low-profile ini niscaya sudah cukup teruji, setidak-tidaknya ketika diberikan kepercayaan menduduki jabatan sebagai Wakil Menteri Perindustrian selama tahun 2010-2014. Oleh karena itu, mengakhiri pembicaraannya Samra tidak lupa mengungkapkan harapannya, semoga dalam pembentukan kabinet nanti Presiden Jokowi bersama Wakil Presiden Kiai Ma’ruf berkenaan memberikan kesempatan bagi Retraubun menduduki salah satu jabatan Menteri atau jabatan tertentu setara Menteri agar sekaligus menampilkan simbol keikut-sertaan masyarakat Maluku dalam kancah pemerintahan di level nasional.  [ Red/Akt-13 ]

 

Munir Achmad
Aktual News

Foto :
SAMRA, Ketua LPBH NU Maluku.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed