oleh

Forensik Digital Pada Sistem Imigrasi Diperlukan

Bali, Aktual News-Imigrasi Bali kembali diterpa masalah, setelah pada akhir Januari lalu

ada serangan hacker menarget running text dengan tulisan tak senonoh di
TPI Kelas 1 Denpasar, kini Imigrasi Ngurah Rai Bali terkendala sistem.
Akibatnya ribuan orang tidak bisa diproses masuk tanah air.

Dalam keterannya Senin (24/2), pakar keamanan siber Pratama Persadha
menjelaskan bahwa gangguan sistem di Imigrasi bandar Ngurah Rai bisa
karena berbagai sebab. Mulai dari adanya bug pada sistem, koneksi yang
terkendala pada pusat data sampai pada tindakan peretasan.

“Intinya perlu dilakukan digital forensic untuk mengetahui penyebabnya.
Bila memang tim IT dari Imigrasi kesulitan ada baiknya berkoordinasi
dengan Badan Siber dan Sandi Negara dan bila ditemukan tindakan
peretasan bisa dilaporkan ke Cybercrime Polri,” jelas chairman Lembaga
Siber Indonesia CISSReC ini.

Ditambahkan Pratama, sistem di Imigrasi Ngurah Rai berjalan sesuai SOP.
Saat sistem bermasalah, otomatis orang dari luar negeri tidak bisa
masuk. Berbeda dengan sistem di Soekarno Hatta yang bermasalah namun
puluhan ribu orang tetap bisa masuk dari luar negeri dan kedatangan
buronan KPK Harun Masiku tidak terdeteksi.

“Bandara dan imigrasi ini pintu masuk dari luar yang harus benar-benar
aman. Rekayasa dan manipulasi sistem maupun data bisa berakibat serius
bagi kedaulatan negara. Selain sistem imigrasi, keamanan pada sistem ATC
juga harus diperkuat, jangan sampai terkena retas atau kesalahan sistem
yang membuat pesawat di udara kebingungan saat harus mendarat,” tegas
pria asalah Cepu Jawa Tengah ini.

Kegagalan sistem imigrasi memungkinkan individu yang masuk dalam daftar
pencarian orang (DPO) menjadi tidak terdeteksi. Bisa jadi ada DPO
polisi, jaksa dan KPK maupun DPO interpol. Ini yang wajib diwaspadai.

“Baiknya secara reguler dibuat pengecekan pada sistem di imigrasi dan
bandara. Mencegah terjadinya kesalahan sistem karena peretasan dan bug.
Jangan sampai seperti peristiwa gagal terbangnya 1.400 orang di Polandia
pada 2015 karena peretasan pada sistem bandara,” terang Pratama. [ Red/Akt-01 ]

Aktual News

Nara Sumber: Dr. Pratama Persadha

Ketentuan Penulis : Aktual News

Gambar Gravatar
Naskah yang dikirim ke Redaksi dan diterbitkan menjadi milik Harian Online AktualNews. Isi dan artikel/tulisan sepenuhnya tanggung jawab pengirim/penulis, apabila ada sengketa terhadap isi naskah Redaksi akan mengembalikan tanggung jawab sepenuhnya kepada pengirim.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed