oleh

Adung Abdul Haris ; Di Sudut Gedung DPR-MPRI RI, Kutemukan Kapita Selekta dan Teori-Teori Sosial

Tangerang, AktualNews – Hari Kamis, tanggal 2 Juni 2022 yang lalu, kebetulan saya sempat berada di Gedung DPR-MRI RI. Kehadiran saya di Gedung DPR-MRI RI itu yakni dalam rangka untuk mengikuti acara diskusi buku (bedah buku). Sedangkan buku yang didiskusikan itu, yaitu buku berjudul, “PANCASILA : IDENTITAS KONSTITUSI BERBANGSA DAN BERNEGARA”. Buku tersebut ditulis oleh Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH. Minggu, 12/06/2022.

Namun ketika rehat diacara diskusi itu, saya sempat keluar ruangan dan kemudian sekedar keliling-keliling di sekitar Gedung DPR-MPR RI itu, atau mencoba wara-wiri di halaman Gedung Nusantara I sampai ke Gedung Nusantara V. Namun persis ketika berada di halaman Gedung Nusantara III, saya mencoba menuju sudut Gedung Nusantara III, dan ternyata dibagian sudut Gedung Nusantara III itu memang ada tumpukan buku-buku, majalah dan lain sebagainya. Dan saat itu juga saya mencoba melihat buku-buku, majalah, tabloid, koran harian, dan lain sebagainya, yakni yang tersimpan rapih di rak buku di sudut Gedung Nusantara III itu. Namun uniknya , saat itu saya menemukan salah satu buku yang berjudul “Kapita Selekta Dan Teori-Teori Sosial”, dan buku tersebut ditulis oleh Dr. Zalnur Wula, M.Si.

Ketika melihat judul buku tersebut, saya secara reflekti teringat langsung ketika di era tahun 1997-an misalnya, yakni ketika itu pernah berdiskusi atau mendiskusikan materi buku yang hampir mirip-mirip dengan judul buku sebagaimana maksud diatas, yakni ketika itu (tahun 1987-an) kebetulan pernah ikut “Diskursus Kajian Sosiologi Dan Filsafat”. Kajian sosiologi dan filsafat itu diselenggarakan oleh Yayasan Paramadina, Pondok Indah, Jakarta. Dan Yayasan tersebut ketika itu dipimpin langsung oleh (Alm) Dr. Nurcholis Majid atau yang akrab dipanggil Cak-Nur.

Ketika mengikuti “Diskursus Sosiologi Dan Filsafat” di Yayasan Paramadina itu, kebetulan saat itu nara sumbernya (para dosennya), memang ada juga yang dari luar negeri (Prancis) dan salah satunya adalah Dr. John Moleman. Ia adalah salah seorang sosiolog dan sekaligus ilmuan, dan kebetulan saat itu Dr. John Moleman belum lama masuk Islam (mualaf). Dan bahkan sebelum ia menyampaikan inti materi perkuliyahannya, ia kerapkali bercerita tentang latar belakang masuk Islamnya, yaitu terilhami atau terinsfirasi oleh ilmuan Muslim di abad pertengahan. Terinsfirasi oleh genialitas pemikiran Al-Kindi, Al-farabi, Al-Gozali dan lain sebagainya.

Dan ketika mengikuti “Diskursus Sosiologi Dan Filsafat” yang dipandu oleh Dr. John Moleman itu, saat itu sang ilmuan dan sosiolog dari Prancis itu, ia juga banyak membahas materi pelajaran, yakni yang hampir mirip-mirip dengan isi buku yang ditulis oleh Dr. Zalnur Wula, M.Si, yang berjudul “Kapita Selekta Dan Teori-Teori Sosial”, sebagaimana telah dikemukakan diatas.

Sedangkan secara substantif di dalam buku yang ditulis oleh Dr. Zalnur Wula, M.Si itu, memang banyak mengupas hal-hal yang berkaitan dengan pemikiran tokoh-tokoh teori sosial Klasik dan Modern, Post-Modernisme, teori sosial, yakni dari berbagai aspek dan sudut pandang serta latar belakang kehidupan pribadi yang mengilhami dan menginsfirasi lahirnya sebuah teori.

Bahkan menurut penilaian saya, bahwa dibagian prolog di dalam buku yang ditulis oleh Dr. Zalnur Wula itu, memang sedikit banyak ia menjelaskan, bahwa buku yang berjudul, “Kapita Selekta Dan Teori-Teori Sosial Itu”, memang sebelumnya buku itu merupakan kumpulan dari modul perkuliahan teori sosiologi klasik dan moderen, teori kritis dan pos modern oleh Dr. Zalnur Wula memang kerap diajarkan kepada para mahasiswanya, yakni sejak tahun 2000, yaitu melalui Program Studi (Prodi) Sosiologi, namun sejalan dengan perkembangan serta meningkatnya kebutuhan akan reperensi khususnya bagi kalangan mahasiswa, untuk memenuhi teori-teori sosial, maka akhirnya Dr. Zalnur Wula, M.Si, banyak melakukan perubahan – perubahan dari asfek referensi substansial dan dengan deskripsi kebahasaan yang memudahkan para pembaca untuk memahami kandungan teori-teori sosial.

Dengan kata lain, bahwa bobot materi buku yang ditulis oleh Dr. Zalnur Wula itu, merupakan materi – materi pilihan yang disesuaikan dengan fenomena perkembangan sosial budaya, ekonomi, ideologi, politik, pemerintahan, birokrasi, hukum, pendidikan, gender, kemiskinan dan kesenjangan sosial, multikulturalisme, lingkungan hidup, modal sosial, ketahanan sosial, globalisasi dan post modernisme. Oleh karena itu, bahwa buku yang ditulis oleh Dr. Zalnur Wula itu memang sangat recommended sebagai referensi bagi mahasiswa ilmu sosial, akademisi, dan praktisi sosial lainnya.

Bahkan kalau kita membaca menyelami dan sekaligus menela’ahnya secara kritis-kontemplatif, bahwa buku yang berjudul, “Kapita Selekta Dan Teori-Teori Sosial Itu”, memang terkesan kita disuguhkan dan sekaligus diarahkan pada kemampuan berfikir alternatif. Dan bahkan pemikiran alternatif, saat ini seyogyanya harus dimiliki serta dikuasai oleh setiap orang yang kerapkali mengeksplorasi suatu persoalan dari berbagai perspektif dan sudut pandang.

Sedangkan “Diskursus Sosiologi, Teori-Teori Sosial serta Kajian Filsafat”, yakni sebagaimana secara inspairing telah disinggung di dalam buku karya Dr. Zalnur Wula itu, memang idealnya rumusan teori sosial maupun diskursus sosial itu seyogyanya harus dimiliki juga oleh para tokoh-tokoh agama maupun para agamawan. Karena pada hakekatnya, bahwa setiap persoalan dalam konteks sekarang ini memang harus didekati pula utamanya dengan nilai-nilai keagamaan terlebih dahulu, kemudian baru dilebarkan jangkauannya ke perspektif keilmuan lainnya (ilmu-ilmu sosial profektif seperti hukum positif negara, kebudayaan dan lain sebagainya, sehingga kesimpulan dan rekomendasi terhadap persoalan tersebut akan menjadi hal yang terbaik atau akan menemukan solusi terbaik (problem solving yang terbaik.

Sedangkan berfikir alternatif untuk menyelesaikan berbagai persoalan, yaitu merupakan cara kita, yakni ketika melihat berbagai persoalan itu tentunya tidak hanya melihatnya dari sisi “hitam putih” semata, namun harus juga melihat berbagai persoalan itu dari faktor-faktor lain yang melingkupinya, sehingga kita bisa menemukan solusi yang arif, bijaksana, namun tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip kebenaran agama yang kita yakini. Dengan kata lain, bahwa setiap orang (utamanya para tokoh agama) harus terus menemui, berdialog, dan mengelaborasi persoalan dengan banyak orang (ahli) dari berbagai latar belakang keilmuan, serta para penempuh kehidupan yang telah menginternalisasi banyak pengalaman. Dan edingnya, ketika kita banyak berdialog serta banyak mengelaborasi berbagai keilmuan dari para ahli itu, maka kita akan cenderung melihat berbagai persoalan itu tentunya akan lebih utuh dan komprehensif.

Karena pada hakikatnya, bahwa setiap permasalahan, memang terdapat relasi-relasi dengan berbagai faktor lainnya, maka menguraikannya juga harus dengan berbagai pisau analisis yang tajam, dan itu merupakan suatu keharusan bagi kita semua. Dan bahkan, narasi-narasi yang kita suguhkan terhadap suatu persoalan memang haruslah lebih komplikated, meskipun dalam konteks penyajiaannya memang harus sesederhana dan segamblang mungkin. Dan orang-orang yang dikategorisasikan sebagai “observer” memang ia diharapkan akan menjadi seorang “problem solver”, dan ia tentunya harus memiliki cukup bekal tentang diskursus sosiologis, yakni agar solutif setiap memecahkan berbagai persoalan tidak kaku alias sulit dicerna. Oleh karena itu, bahwa kemampuan berfikir alternatif sebagaimana telah dijelaskan diatas, adalah salah satu bekal yang harus miliki oleh setiap kita semua di era milenial ini.[Red/Akt-56/]

AktualNews

Ketentuan Penulis : Aktual News

Gambar Gravatar
Naskah yang dikirim ke Redaksi dan diterbitkan menjadi milik Harian Online AktualNews. Isi dan artikel/tulisan sepenuhnya tanggung jawab pengirim/penulis, apabila ada sengketa terhadap isi naskah Redaksi akan mengembalikan tanggung jawab sepenuhnya kepada pengirim.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed